Sedikit ngomongin sepak bola, mungkin bagi para penggemar sepak bola khususnya Interisti, sangat mengenal Sosok Adriano Leite. Striket Inter Milan dan juga juru gedor Brasil tersebut membuat was-was sekaligus mengundang banyak simpati para pengamat sepak bola di Eropa sana. Masalahnya adalah pernyataan kontoversial nya yang menyebutkan dirinya akan gantung sepatu atau berhenti sementara dari dunia sepak bola beberapa waktu lalu.
Setelah memperkuat Brasil pada Babak Kualifikasi Piala Dunia pekan lalu, hingga hari ini masih tinggal di Brasil. Adriano yang seharusnya kembali ke Italia untuk segera bergabung dengan teman-temannya memilih untuk tetap di Brasil. Hal ini tentunya menimbulkan spekulasi dan tanggapan dari berbagai kalangan, terutama dari para Jurnalis. Dari isu penculikan, bunuh diri sampai kepada ketergantungan Narkoba.
Kita, para pecinta Liga Italia, Eropa, bahkan dunia, khususnya saya pengermar Inter Milan tentunya akan sangat kehilangan apabila pernyataan tersebut akan benar-benar terjadi. Masih sangat terbayang dengan jelas di kepala saya, ketika itu Adriano masih seorang Pemain muda penuh Talenta, dan harus bersaing dengan nama besar seperti Ronaldo, dan Vieri untuk dapat bermain di barisan penyerang Inter Milan.
Di kemudian hari ternyata prediksi dari berbagai pihak itu pun terbukti, Adriano menjelma menjadi Striker paling ditakuti di Italia, bahkan dunia. Dengan sendirinya julukan L’Imperatore (sang Kaisar) pun disanding nya dengan gagah.
Striker yang telah mencetak 29 gol dalam 47 penampilannya dalam tim Brazil itu menunjukkan kelasnya di tingkat internasional dengan menjadi pencetak gol terbanyak Piala Amerika 2004 dan Piala Piala Konfederasi pada tahun berikutnya, setelah menggantikan posisi Ronaldo. Ia juga membuat hattrick pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Chile September 2005.
Sejak Piala Dunia 2006, ia juga harus berjuang dari masalah alkohol dan kesehatan, dan jarang memperlihatkan penampilan seperti masa keemasannya. Ia sempat dipinjamkan ke klub Sao Paulo pada separuh pertama tahu lalu, namun setelah kembali ke Inter pelatih Jose Mourinho merasa komitmennya pada klub kurang.
Belakangan Adriano mengaku hanya kurang bergairah lagi main sepak bola. "Saya sesungguhnya tidak senang melakukan apa yang biasanya saya nikmati." Ujar Adriano beberapa waktu lalu.
Adriano menolak untuk kembali ke Italia, tentunya itu menimbulkan spekulasi dari berbagai pihak. Karena ia masih terikat kontrak sampai 2010 di Inter Milan, maka ia punya kewajiban untuk menyelesaikan sisa kontraknya tersebut. Namun, Adriano dikabarkan siap untuk membayar kompensasi dari pemutusan kontrak tersebut. Tentunya ini meninggalkan tanda tanya yang sangat besar, dimana ada seorang pemain yang rela membayarkan sejumlah uang kepdaa klub nya untuk dapat berhenti bermain Sepak Bola. Hal ini sangat kontras sekali bila dibandingkan dengan banyaknya pemuda Brasil yang mempunyai mimpi agar dapat bermain sepak bola dan memperkuat tim-tim besar dari Eropa.
Berbagai persoalan Adriano muncul, yang pertama adalah meninggalnya sang ayah jelang Piala Dunia 2006. Adriano memang dikenal sangat dekat dengan ayahnya itu. Faktor kedua adalah lingkungan yang tidak mendukung dan mendidik Adriano untuk tidak hidup hedonis. Pesta demi pesta pun terus diikutinya, meski keesokan hari Adriano harus turun bertanding. Imbasnya, kondisi fisik dan kemampuan mengolah bola pun perlahan tapi pasti tergerus. Singkatnya, Adriano sudah keluar dari jalurnya sebagai pesepakbola. Dari sosok yang sempat menjadi pemain incaran klub besar sekelas Chelsea dengan Roman Abramovich-nya dan Real Madrid, menjadi pemain yang kini pantas dipandang sebelah mata. Pertanyaan besar pun mengemuka, mengapa Adriano bisa berubah menjadi seperti ini? Di mana kemampuan, komitmen dan dedikasi pada sepakbola yang dulu dimilikinya?
Tapi disini yang berbicara adalah bukan sebuah pembangkangan, penghianatan, ataupun pelanggaran dari seorang Adriano kepada klub nya Inter Milan. Yang terjadi lebih jauh dari itu,... dimana ada seorang anak manusia yang terlibat berbagai masalah, dan ia mendapatinya ternyata tak ada seorang teman pun yang dapat membantunya. Disini kita membicarakan seorang manusia biasa-biasa saja, bukan seorang L’Imperatore (sang Kaisar). Seorang manusia yang punya sisi kemanusiaan, dan punya kerapuhan hati. Bahkan Pelatihnya di Inter Milan pun (Mourinho) dapat melihat ke arah sana, itu berdasarkan pernyataannya beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa dia sangat prihatin dengan kondisi Adriano.
"Jika kami kehilangan pemainnya tapi mendapat seorang (yang sudah jadi) pria maka itu tidak apa-apa. Tapi saya belum bicara dengannya dan saya harap kami memiliki kesempatan mendiskusikan sejumlah hal nantinya," tegas Mourinho.
Apapun yang terjadi, semua pihak tentunya akan dapat mengerti.
0 komentar:
Poskan Komentar